Senin - Jum'at, 08.00 - 16.00

Whatsapp

0857 1325 1145

Email Kami

pengacara.online@yahoo.com

Prosedur Mengajukan Gugatan Cerai Secara Tertulis dan Lisan

0 Comments
Prosedur Mengajukan Gugatan Cerai Secara Tertulis Ataupun Lisan

Prosedur Mengajukan Gugatan Cerai Secara Tertulis dan Lisan

A. Langkah- langkah yang wajib dicoba Penggugat ataupun isteri ataupun kuasanya:

1. Sesi Membuat Pesan Gugatan

a. Mengajukan Gugatan secara tertulis ataupun lisan kepada Majelis hukum Agama/Mahkamah Syar’ iyah (pasal 118 HIR, 142 Rbg Jo. Pasal 66 Undang- Undang Nomor. 7 Tahun 1989).

b. Penggugat di anjurkan buat memohon petunjuk kepada Majelis hukum Agama/Mahkamah Syari’ iyah tentang tata sistem membuat pesan Gugatan (Pasal 119 HIR, 143 Rbg Jo. Pasal 48 Undang-Undang Nomor. 7 Tahun 1989).

c. Pesan Gugatan bisa dirubah sejauh tidak merubah posita serta petitum. Bila Tergugat sudah menanggapi pesan Gugatan nyatanya terdapat pergantian, hingga pergantian tersebut wajib atas persetujuan Tergugat.

2. Gugatan Tersebut Diajukan Kepada Majelis Hukum Agama Mahkamah Syar’ Iyah:

a. Yang wilayah hukumnya meliputi tempat kediaman Penggugat (Pasal 66 ayat 2 Undang-Undang Nomor. 7 Tahun 1989)

b. Apabila Penggugat meninggalkan tempat kediaman yang sudah disepakati bersama tanpa izin Tergugat, hingga Gugatan diajukan kepada Majelis hukum Agama Syar’ iyah yang wilayah hukumnya meliputi tempat kediaman Tergugat (pasal 73 ayat 1 Undang-Undang Nomor. 7 tahun 1989, jo. Pasal 32 ayat 2 UU Nomor. 1 tahun 1974)

c. Apabila penggugat bertempat kediaman diluar negara, hingga Gugatan diajukan kepada Majelis hukum Agama/Mahkamah Syar’ iyah yang wilayah hukumnya meliputi tempat kediaman Tergugat( Pasal 73 ayat 2 UU Nomor. 7 Tahun 1989)

d. Apabila Penggugat serta Tergugat bertempat kediaman di luar negara, hingga Gugatan diajukan kepada Majelis hukum Agama/Mahkamah Syar’ iyah yang wilayah hukumnya meliputi tempat dilangsungkannya pernikahan ataupun kepada Majelis hukum Agama Jakarta Pusat (Pasal 73 ayat 3 UU Nomor. 7 tahun 1989)

3. Gugatan tersebut meliputi:

a. Nama, usia, pekerjaan, agama serta tempat kediaman Penggugat serta Tergugat;
b. Posita (kenyataan peristiwa serta kenyataan hukum)
c. Petitum (hal-hal yang dituntut bersumber pada posita)

4. Gugatan soal kemampuan anak, nafkah anak, nafkah isteri serta harta bersama bisa diajukan bersama-sama dengan Gugatan cerai talak ataupun setelah ikrar talak diucapkan (pasal 86 ayat 1 UU Nomor. 7 Tahun 1989)

5. Membayar bayaran masalah (pasal 121 ayat 4 HIR, 145 ayat 4 Rbg jo. Pasal 89 UU Nomor. 7 tahun 1989) untuk yang tidak sanggup bisa berperkara secara Cuma- Cuma (Prodeo) (Pasal 237 HIR, 273 Rbg).

6. Penggugat serta tergugat mendatangi sidang bersumber pada panggilan majelis hukum agama/mahkamah syar’ iyah

B. Proses Penyelesaian Perkara

1. Penggugat mendaftarkan Gugatan cerai talak ke majelis hukum Agama/Mahkamah Syar’ iyah
2. Penggugat serta Tergugat terpanggil oleh Majelis hukum Agama/Mahkamah Syar’ iyah buat mendatangi sidang.

C. Tahapan Sidang:

1. Pada pengecekan persidangan awal, Hakim berupaya mendamaikan kedua belah pihak, serta suami isteri wajib tiba secara individu (Pasal 82 UU Nomor. 7 Tahun 1989)
2. Apabila tidak sukses, hingga Hakim mengharuskan kepada kedua belah pihak supaya lebih dulu menempuh mediasi (Pasal 3 ayat 1 PERMA Nomor. 2 tahun 2003)
3. Apabila mediasi tidak sukses, hingga pengecekan masalah dilanjutkan dengan membacakan pesan Gugatan, Jawaban, Jawab menanggapi, pembuktian serta kesimpulan.
4. Dalam sesi jawab menanggapi (saat sebelum pembuktian) Tergugat bisa mengajukan gugtan rekonpensi/ gugatan balik (Pasal 132a HIR, 158 Rbg)

D. Vonis Majelis hukum Agama/Mahkamah Syar’ iyah atas gugatan cerai talak bagaikan berikut:

1. Permohonan di kabulkan. Apabila Tergugat tidak puas bisa mengajukan banding lewat Majelis hukum Agama/Mahkamah Syar’ iyah tersebut.
2. Gugatan ditolak. Penggugat bisa mengajukan banding lewat majelis hukum agama/mahkamah syar’ iyah tersebut.
3. Gugatan tidak diterima. Penggugat bisa mengajukan Guagatan baru.
4. Sehabis Ikrar talak diucapkan paitera berkewajiban membagikan akta cerai bagaikan pesan fakta kepada kedua belah pihak paling lambat 7 hari sehabis penetapan ikrar talak (Pasal 84 ayat 4 UU Nomor. 7 tahun 1989)

Demikian menimpa persyaratan pula prosedur buat mengajukan gugatan perceraian, mudah-mudahan dapat bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *