Senin - Jum'at, 08.00 - 16.00

Whatsapp

0857 1325 1145

Email Kami

pengacara.online@yahoo.com

Yuk Baca Pertimbangan Jika Anda Mau Bercerai, Apa Resikonya?

0 Comments
Yuk Baca Pertimbangan Jika Anda Mau Bercerai, Apa Resikonya

Kita tidak bisa menutup mata bahwa perceraian terjadi di sekitar kita. Ada pasangan yang mengalami perceraian karena mereka merasa telah memilih orang yang salah, atau merasa pernikahan yang mereka jalani buruk atau sakit.

 

Saya tidak ingin khawatir tentang orang yang salah atau pernikahan yang sehat versus pernikahan yang sakit, itu tidak akan dibahas dalam makalah ini. Apa yang lebih ditekankan dalam makalah ini adalah risiko perceraian daripada pasangan yang memilih untuk bercerai.

 

#RISIKO EMOSI

Pasangan yang menghadapi kekacauan rumah tangga pasti akan merasakan tekanan perasaan seperti jiwa yang terganggu, marah, sedih, tak berdaya, bersalah, terisolasi, inferior, putus asa, kecewa, kesepian.

 

Beban perasaan itu pasti akan menimpa pasangan yang menghadapi perceraian, baik sebelum, selama atau setelah perceraian. Tekanan perasaan tidak hanya mengganggu emosi dan jiwa individu, tetapi juga berdampak pada kesan negatif pada keluarga dan orang-orang terdekat.

 

#RISIKO KEWAJIBAN

Untuk pasangan yang bercerai, mereka juga akan dibebani dengan meningkatnya tanggung jawab dan peran:

 

      • Sebagai ibu / ayah tunggal
      • Terpaksa mencari nafkah.

 

#RISIKO ANAK

Dalam perceraian, anak-anak menjadi korban nyata, terutama jiwa dan perasaan mereka. Mereka tidak memiliki cinta, perhatian, dan bimbingan dari ayah dan ibu mereka. Cara memberikan perawatan dan pendidikan yang optimal saat hidup terpisah. Beberapa situasi yang akan dihadapi anak-anak akibat perceraian orang tua mereka adalah:

 

      • Kehilangan cinta dari ibu dan ayah
      • Terkadang terpaksa berpisah dari saudara kandung
      • Rasa bersalah, malu, rendah diri, kurang percaya diri
      • Mengalami tekanan mental dan emosional
      • Merasa terganggu dan bingung
      • Hilangnya antusiasme untuk belajar
      • Akan menunjukkan karakter dan sikap negatif.

 

Emosi negatif anak, jika dibiarkan berlarut-larut, tanpa penanganan yang berarti, akan membuat anak tumbuh dengan konsep diri yang negatif sepanjang hidupnya. Pasangan yang ingin bercerai harus memberikan prioritas utama kepada anak-anak mereka. Harus ada kehendak bersama, kesepakatan bersama bahwa:

 

      • Perceraian tidak akan memutus ikatan antara anak dan ayah dan ayah. Hanya hubungan perkawinan yang rusak. Anak-anak tidak boleh terlibat dalam konflik ibu dan ayah
      • Anak-anak membutuhkan bantuan dan dukungan dari ayah Anda agar dapat mengendalikan semua perubahan yang mereka alami setelah perceraian Anda.
      • Anak-anak memiliki perasaan sensitif. Jika Anda kehilangan sesuatu, pasti akan ada perasaan ketidakpastian, kemarahan, dan kemarahan. Mereka membutuhkan banyak perhatian, dukungan, dan bantuan.
      • Anak-anak membutuhkan cinta dari kedua orang tua. Perasaan negatif yang ada di antara pasangan tidak harus ditanamkan dalam jiwa anak-anak.
      • Jangan pernah mengatakan hal-hal buruk atau menghakimi ayah atau ayah yang buruk terhadap anak-anak.

 

#RESIKO KEUANGAN

Jika seseorang bercerai karena masalah keuangan, masalahnya akan tetap menghantui diri setelah perceraian nanti. Beberapa masalah yang akan mereka hadapi adalah: mengurangi anggaran belanja karena pendapatan telah menurun.

 

      • Gaya hidup sebelum ini terpaksa berubah, karena mereka yang mencari nafkah menjadi lajang.
      • Masalah keuangan akan lebih mendesak jika seorang istri sebelum ini hanya tergantung pada penghasilan yang diberikan oleh suami.
      • Kebutuhan dan pengeluaran kehidupan sehari-hari anak-anak akan berkurang dan ini juga dapat mengurangi kinerja mereka di sekolah.
      • Ada tuntutan hukum terkait dengan masalah tunjangan anak di pengadilan.
      • Kerja lembur dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
      • Suami harus menanggung beban keuangan yang lebih besar untuk membiayai kebutuhan anak-anak yang dibawa oleh istri mereka yang diceraikan, dan tanggungan untuk memenuhi kebutuhan keluarga baru jika mereka menikah lagi.

 

#RISIKO SOSIAL

Dalam hal perceraian, kehidupan sosial seseorang juga mengalami kejutan. Berbagai masalah yang berkaitan dengan interaksi dan interaksi dengan manusia akan menghasilkan kesan negatif dalam kehidupan mereka. Sebagai contoh:

 

      • Pasangan akan dilihat secara sinis oleh beberapa orang dengan gelar janda / duda.
      • Pertanyaan muncul dari kerabat yang harus dihadapi.
      • Suami dan istri akan kehilangan keluarga, saudara kandung, dan teman dari pasangan masing-masing.
      • Pasangan dipaksa untuk mendapatkan bantuan dari keluarga dan kerabat dalam merawat anak-anak.
      • Jiwa akan lebih tertekan jika selama ini pasangan hanya saling bergantung dalam kehidupan sehari-hari.

 

Risiko di atas adalah sebagian kecil dari masalah baru yang akan menimpa pasangan yang telah memutuskan untuk bercerai. Meskipun pada intinya ada pasangan yang terpaksa membuat keputusan pahit ini; karena pasangannya tidak bertanggung jawab atau sudah lama mengabaikan kewajibannya sebagai suami atau istri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *